Posts

Showing posts with the label cerpen

PARADOX, PELAJARAN BERHARGA DALAM HIDUP

Image
Setiap kali kami datang ke tempat itu untuk makan, aku melihat prempuan tua itu mengemis dan pasti akan mendatangi meja makan kami, papaku sering berkata: "Penyakit sosial" tapi benarkah selalu begitu? Bagaimana jikalau mereka benar benar membutuhkan pertolongan setiap hari? Dan hari ini seorang lelaki tua, pasti jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya karena di poles oleh penampilan profesinya sebagai pengemis datang menghampiri meja makan kami, tangannya kurus, bajunya kucel dan jauh dari penampakan sejahtera. Wajahnya memelas seolah mengumpulkan seluruh penderitaan sepanjang hidup yang dia lalui, aku menggamit lengan papaku ketika lelaki tua dan nampak renta itu mengucapkan salam dengan suara lirih: "Assalamualaikum, nak" Katanya mendatangi papaku dari samping, telapak tangannya menghadap rendah kearah kami. Papa menoleh kepadaku sambil sedikit mencibir tapi dia mengeluarkan dompetnya juga dan mengambil uang dua ribuan, semuanya kuperhatikan: Dari cara p...

APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?

Image
Ini memang curhat, man. Bukan kebiasaanku. Tapi malam minggu ini aku sendiri dan bukan kebiasaanku memaksakan diri pergi ke rumah teman untuk membuka cerita, aku ini penyendiri, perenung. Tetapi sekali aku bercerita aku ingin membahasnya hingga tuntas. Susah mencari pendengar yang baik, siapa tahu dengan menuliskannya ketemu seorang pembaca yang baik. Tadinya ini adalah pertanyaan pribadi kepada diriku sendiri, beberapa kali teman bertanya apa yang harus dia lakukan kepadaku, tapi aku hanya berfikir: Dia lebih tahu akan seperti apa hidupnya berjalan. Jadi aku menjawabnya, kamu harus terus berusaha, bekerja dan mengumpulkan uang untuk hari depanmu. Dan lupakan saja orang yang meninggalkanmu, dia sudah pergi menjadi masa lalumu. Katakan selamat tinggal kepada masa lalu. Itu sederhana bagi orang seperti kita. Aku dan dia bekerja di perusahaan yang sama, waktu kami adalah lebih banyak menghadapi orang yang sama, mesin yang sama , memonitor layar daripada berinteraksi langsung sec...

SACRIFICE

Image
Dulu dipenghujung kisah perang, dikala pertempuran masih berkecamuk  di Eropa ada sebuah cerita yang terlupakan, kisah yang terlalu kecil untuk dilihat oleh dunia namun begitu mengharukan. Seorang prajurit berpangkat kopral satu bernama Pierre bersama seorang komandannya berada dalam sebuah bangunan berlantai lima dengan moncong meriam siap ditembakan ke sebuah gedung lain di sebuah kota kecil perancis yang sedang di kuasai oleh sisa pasukan Jerman. Pierre adalah seorang prajurit dengan keahlian menembak meriam dan sangat jitu. Hari itu mereka sedang melakukan pengintaian terhadap sebuah kegiatan yang sedang dilakukan oleh tentara musuh berdasarkan laporan intelijen negara. Dari jendela diruangan gelap itu mereka berdua melihat keluar memperhatikan dengan seksama setiap gerakan di gedung seberang, sesekali mereka melihat kelangit dimana pesawat tempur melintas dengan garang diantara kepulan asap asap puncak puncak gedung. "Pierre, ambil teropong dan perhatikan dengan seksa...

BINTANG YANG HILANG

Image
Adik prempuanku, kamu hancurkan hati abang hingga hari berganti hari, abang tidak lupa tapi kamu mungkin telah lupa ketika dua orang bocah kecil ditinggalkan dalam ketakutan dijalanan yang menderu dan penuh kotoran debu. Tapi engkau mungkin masih ingat betapa bingungnya abang yang masih kecil meredam tangis dan kepanikanmu. Abang hanya bisa memelukmu dalam ketidak mengertian hidup yang masih butuh banyak belajar. Kita akhirnya berjalan tanpa tujuan dari taman ke taman kota dan mulai merasa lapar. Banyak mereka yang tidak perduli kepada sepasang bocah kecil dekil yang melihat betapa nikmatnya orang makan, melihat anjing dan kucing makan. Akhirnya kita melihat bocah bocah seperti kita meminta minta, atau memungut makanan dijalan, hanya itu bisa kita lakukan adikku sayang. Dan kitapun mulai seperti mereka walau kadang harus lari untuk menghindari usiran dan pukulan tetapi mulai saat itulah abang mulai belajar melindungimu. Dan dunia terasa semakin kejam ketika matahari meninggi, ...

TAMAN BUNGA MAWAR MERAH MAGDALENA

Image
Dulu dia adalah bunga desa, wajahnya cantik jelita, rambutnya hitam panjang sepinggang, saat itu dia masih SMP kelas 2. Dan aku adalah salah seorang pemujanya. Didunia remaja yang penuh suka dan duka. Aku tahu sekali dia gadis berhati baik selalu menyunggingkan senyuman manis setiap memandang wajah orang yang mengajaknya bicara dan yang paling aku suka adalah tatapan bola mata indahnya yang lekat penuh pesona. Yang paling dia sukai adalah kebun bunga mawar ibunya, dan setiap hari dia merawat dan menyiramnya. Orang tuanya adalah pedagang bunga yang berhasil, bunga bunga dari kebunnya di pesan oleh orang orang dari kota. Tentang bunga mawar Mahdalena pernah mengatakannya kepadaku sewaktu kami berjalan menuju kesekolah kami dipagi hari: "Suatu hari kalau punya rumah sendiri, akan kutanami halamannya dengan mawar mawar merah". Entah mengapa kata katanya itu seperti memberikan semangat dan harapan hidupku walaupun aku bukan pencinta bunga mawar. Aku membayangkan sebuah rumah...

KISAH BUTIRAN WAKTU 2

Image
Malam dingin menyelimuti dusun dikaki gunung. Angin bagai membeku diselimuti embun, disebuah gubuk nampak cahaya berkelip kelip dari tungku masak, seorang ibu muda yang sedang hamil terdengar membujuk anak prempuannya yang sedang kelaparan. "Ade sabar ya sayang, ibu sedang masak" katanya "Tapi kok lama sekali masaknya, ade sudah lapar sekali" rengek anak prempuan berwajah manis semanis ibunya itu. "Ya makanya ade tidur dulu, nanti kalau ayah pulang, kita makan bersama" bujuknya sambil mengusap kepala kecil berambut ikal yang sedang terbaring lemah dilantai kayu beralas pelastik kusam. Anak prempuan itu tersenyum manis membayangkan akan makan bersama kalau ayahnya nanti sudah pulang. Sesungguhnya sejak dari tadi berkali kali dia membuka jendela dan memandang cemas keluar. Diluar sana, diujung jalan setapak hanya gelap dan waktu merambat menuju penghujung malam. Entah mengapa tidak seperti biasanya suaminya pulang terlambat setelah bekerja sebagai b...

KISAH BUTIRAN WAKTU

Image
Kedua laki laki muda berbadan kurus kering nampak berjalan tertatih tatih di tengah hutan yang gelap, gerimis berjatuhan didedaunan masa lalu dan kilatan petir seperti amarah dibelakang mereka. Terlihat jelas salah seorang memapah yang lain yang nampak terluka parah. Pakaian mereka terlihat compang camping. "Yusuf, bertahanlah. Yusuf!!" teriak pemuda berperawakan jangkung berambut cepak yang sedang memapah "Tentara Jepang itu tidak akan berhenti mengejar dan mencari kita" Tapi tenaga Yusuf temannya berambut hitam ikal dan gondrong itu terlihat semakin melemah. "Aku tak kuat, kaki dan pinggulku sakit" keluh pemuda usia 18 tahun dan berhidung mancung itu lirih. Isa, mencari pohon besar yang terlindung belukar dan menurunkan tubuh Yusuf. Tubuh itu disandarkan kepohon pulai besar. Dia memeriksa bekas cambukan dipinggul dan luka bekas tembakan dipaha kiri yang terus saja berdarah walau sudah dibalut dengan kaos dalam. Dia memandang wajah temannya, yan...

KAFE ITU BERNAMA KAFE SENJA

Image
Tentu saja senja ketika cahaya meredup dilangit dan berganti pendar pendar lampu kota, dan lalu bangku bangku di kafe itu menjadi ramai, mereka datang berpasangan pada setiap sudut meja ada pasangan keluarga dan suara anak anak mereka memesan makanan. Dan aku telah beberapa jam duduk disudut lain mengamati mereka, penuh dengan dengan waktu yang bermutu. Musik dilayar televisi mengalun lagu lama, hanya aku yang memasang telinga menyimaknya, dan dari dapur kafe tercium wangi kopi hanya hidungku yang mengendusnya lalu asap rokok berpendar diantara cahaya lampu bohlam hanya sudut mataku yang mengikutinya. Mereka hanya bersatu dengan canda, menikmati waktu berharga dengan keluarga. Disini aku menulis sebuah kisah yang tak akan pernah kuucapkan melalui kata kata. Waktu itu Jeniffer masih ada dan dia selalu duduk di meja itu, rambutnya pirang dan halus dan bola matanya yang biru lembut selalu menatapku lekat. "Dan mereka pergi, kamu membiarkannya, kamu tidak berusaha menahan mere...