KAFE ITU BERNAMA KAFE SENJA
Tentu saja senja ketika cahaya meredup dilangit dan berganti pendar pendar lampu kota, dan lalu bangku bangku di kafe itu menjadi ramai, mereka datang berpasangan pada setiap sudut meja ada pasangan keluarga dan suara anak anak mereka memesan makanan. Dan aku telah beberapa jam duduk disudut lain mengamati mereka, penuh dengan dengan waktu yang bermutu. Musik dilayar televisi mengalun lagu lama, hanya aku yang memasang telinga menyimaknya, dan dari dapur kafe tercium wangi kopi hanya hidungku yang mengendusnya lalu asap rokok berpendar diantara cahaya lampu bohlam hanya sudut mataku yang mengikutinya. Mereka hanya bersatu dengan canda, menikmati waktu berharga dengan keluarga. Disini aku menulis sebuah kisah yang tak akan pernah kuucapkan melalui kata kata. Waktu itu Jeniffer masih ada dan dia selalu duduk di meja itu, rambutnya pirang dan halus dan bola matanya yang biru lembut selalu menatapku lekat. "Dan mereka pergi, kamu membiarkannya, kamu tidak berusaha menahan mere...